Minggu, 09 Maret 2014
Lanjutan contoh etika bisnis PT.Djarum
Perusahaan kupu-kupu adalah kategori ketiga. Korporasi seperti ini
punya komitmen kuat menjalankan CSR. Bagi perusahaan ini CSR adalah investasi,
bukan basa-basi. Kategori terakhir adalah korporasi lebah. Perusahaan seperti
ini punya sifat regeneratif atau menumbuhkan. Perusahaan ideal ini menerapkan
etika bisnis dan menjalankan good CSR.
Sabtu, 08 Maret 2014
Lanjutan contoh etika bisnis PT.Djarum
Perusahaan kategori pertama laksana ulat, yang memiliki model
bisnis rakus dan tidak pedulipada lingkungan sekelilingnya. Kategori kedua
adalah perusahaan yang mirip belalang, modelbisnis yang juga eksploitatif dan
degeneratif. Kategori kedua ini mungkin saja sudah mulai mempraktikan CSR.
Tetapi, CSR tidak dilakukan dengan sepenuh hati. CSR di perusahaan ini hanyalah
”Celana Dalam” untuk menutupi ”aurat” perusahaan agar terhindar dari tekanan
masyarakat atau LSM.
Jumat, 07 Maret 2014
Lanjutan contoh etika bisnis PT.Djarum
Saya tertarik pada pendapat Elkington (1998) dalam bukunya
Canibals With Forks: The Triple Bottom Line in 21st Century Business (seperti
yang saya kutip dari makalah Bapak Edi Suharto PhD Ketua Program Pascasarjana
Spesialis Pekerjaan Sosial, Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS)
Bandung yang disampaikan pada Seminar Dua Hari CSR (Corporate Social
Responsibility): Strategy, Management and Leadership, Intipesan, Hotel Aryaduta
Jakarta 13-14 February 2008) yang mengelompokkan perusahaan yang
peduli dan tidak peduli terhadap CSR berdasarkan analogi serangga.
Kamis, 06 Maret 2014
Lanjutan contoh etika bisnis PT.Djarum
Saya ikut menyatakan salut dan mengacungkan jempol tinggi-tinggi
bagi upaya-upaya konstruktif yang telah dilakukan sejumlah korporasi besar,
termasuk PT Djarum Kudus, melalui program CSR-nya yang sudah menunjukkan
komitmen dan kepedulian tinggi menjaga kelestarian lingkungan dengan kegiatan Trees For Life. Ini sebentuk empati sosial
nyata untuk menghindari nestapa kemanusiaan akibat kerusakan lingkungan.
TKKS sebagai pupuk
tandan kelapa sawit yang diubah menjadi kompos tidak hanya mengandung
nutrisi tetapi juga mengandung bahan organik lain yang berguna bagi
perbaikan struktur organik pada lapisan tanah, terutama pada kondisi
tanah tropis. Kompos merupakan sumber Fosfor (P), Kalsium (ca),
Magnesium (Mg), dan Karbon (C). Perlu diketahui bahwa pada proses
pengomposan TKKS tidak menggunakan cairan asam dan bahan kimia lain
sehingga tidak terdapat pencemaran atau polusi. Proses pengomposan pun
tidak menghasilkan limbah. Dibawah ini ditampilkan beberapa gambar
pengomposan.
Langganan:
Postingan (Atom)